karya tulis BALI SEBAGAI EKONOMI

18 January 2011 at 14:52 (soal)

OBYEK WISATA SEBAGAI ASET NEGARA
DAN
UNTUK MEMAJUKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT


Laporan ini disusun oleh :
Nama : Pradina Dyan Istiqlal
Kelsa : XI.IPA2
No : 25/3088
Laporan ini di sahkan pada :
Hari :
Tanggal :
Oleh :
Jetis, Juni 2010
Guru Pendamping

Sugianti, S. Pd Wali kelas

Siti Rohayati, S. Pd
Kepala Sekolah

Drs. H Wiyono
Nip. 19530421 1978031 002

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini dipersembahkan kepada:
1. Orang tua tercinta
2. Teman – teman XI.IPA 2
3. Wali kelas XI.IPA 2
4. Kepala Sekolah SMA N 1 Jetis

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga saya dapat menyelesaikan tugas karya tulis ini. Karya tulis ini disusun sebagai syarat mengikuti ujian semester 2 yang mengacu pada kurikulum berbasis kopetensi.
Pada kesempatan ini saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Dewan sekolah
2. Kepala sekolah
3. Ibu Sugianti, S.pd sebagai guru pembimbing
4. Ibu Siti Rohayati, S. Pd sebagai wali kelas
5. Kedua orangtua saya yang telah menyediakan sarana dan prasarana
6. Teman-teman XI.IPA2
7. Dan pihak pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karna terbatasnya ruang yang telah membantu saya selama membuat karya tulis ini
Saya sebagai penyusun menyadari bahwa karya ini belum sempurna masih banyak kekurangan di sana sini oleh karena itu saya mohon kritik dan saran guna untuk mengoreksi dan sebagai acuan kedepan dalam membuat karya- karya berikutnya. Demikian dari saya, semoga karya tulis ini dapat berguna bagi para pembaca dan untuk saya sendiri sebagai acuan pembuatan karya karya lain.

Jetis, 1 Juni 2010

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………… i
Halaman pengesahaan…………………………………………………………………….ii
Halaman motto…………………………………………………………………………..iii
Halaman persembahaan………………………………………………………………….iv
Kata pengantar……………………………………………………………………………v
Daftar isi…………………………………………………………………………………… vi
Bab 1 PENDAHULUAN. ……………………………………………………………… 1
A. Alas an penulisan judul………………………………………………………1
B. Tujuan ……………………………………………………………………….
C. Rumusan masalah…………………………………………………………….
D. Manfaat penelitian……………………………………………………………
Bab II LANDASAN TEORI…………………………………………………………….
Bab III METODE PENELITIAN………………………………………………………..
Bab IV DATA KUNJUNGAN…………………………………………………………..
Bab V ANALISA DATA…………………………………………………………………
Bab VI PENUTUP……………………………………………………………………….
A. Kesimpulan ………………………………………………………………………
B. Saran-saran……………………………………………………………………….
LAMPIRAN………………………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
A. Alasan penulisan judul
Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan Tahun 1997 telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan perekonomian Daerah Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Walaupun pada tahap awal upaya pemulihan berjalan lamban, namun upaya pada tahap selanjutnya menampakkan arah yang lebih optimis bagi perkembangan perekonomian Daerah Bali. Pada saat puncak krisis perekonomian yang terjadi Tahun 1998, laju pertumbuhan ekonomi Bali mencapai minus 4,04%, ekonomi Bali mulai membaik yaitu menjadi 0,67% Tahun 1999, 3,05% Tahun 2000, 3,39% Tahun 2001, dan 3,15% Tahun 2002.
Berkembangnya kepariwisataan sebagai lokomotif ekonomi daerah Bali telah memberikan dampak positif bagi perkembangan sektor – sektor lainnya, khususnya perkembangan industri kecil, perdagangan, jasa, dan lain-lain.Kepariwisataan Bali mempunyai karakteristik yang unik dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, didukung oleh adanya objek dan daya tarik wisata serta budaya.Pilar-pilar ekonomi yang dibangun lewat keunggulan industri pariwisata sebagai leading ekonomi daerah, membuka beragam peluang yang dapat mendorong aktifitas ekonomi serta pengembangan etos kerja masyarakatnya. Dimensi itu tergambar dari peluang meningkatnya pendapatan masyarakat dan meluasnya kesempatan kerja serta jaringan kerja, yang meliputi batas-batas lokal sampai tingkat nasional bahkan ketingkat internasional. Dengan dukungan industri pariwisata yang sangat besar itu telah menyebabkan sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan langsung seperti perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan, keuangan dan jasa-jasa memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Bali. Pada Tahun 2005 kontribusi kelompok sektor tersier telah mencapai 60,50% kemudian meningkat mencapai 61,90% Tahun 2006, Tahun 2007 mencapai 63,66% dan selanjutnya pada Tahun 2008 turun menjadi 63,26% dan Tahun 2009 menjadi 62,53% disebabkan menurunnya kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran pada masa krisis ekonomi, Tragedi WTC, Tragedi Kuta dan isu SARS.
Dengan berbagai pertimbangan dari sekian judul karya tulis yang di usulkan oleh berbagi pihak ahirnya saya memilih “OBYEK WISATA SEBAGAI ASET NEGARA DAN UNTUK MEMAJUKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT”.

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui potensi ekonomi obyek wisata Pantai Sanur.
2. Untuk mengetahui pengaruh keberadaan obyek wisata Pantai Sanur terhadap kemakmuran penduduk.

C. Rumusan masalah
1. Bagaimana keadaan pantai sanur?
2. Apa saja sektor perekonomian yang dapat dikembangkan di kawasan obyek wisata Pantai sanur?
3. Apa dampak negatif dari kegiatan ekonomi tersebut ?

D. Manfaat penelitian

1. Bagi masyarakat Bali, penelitian ini dapat dijadikan bahan dasar untuk lebih mengetahui bagaimana peran masyarakat Bali dalam memanfaatkan obyek wisata Pantai sanur.
2. Bagi pemerintah, penelitian ini dapat dijadikan salah satu cara untuk mengetahui potensi perokonomian masyarakat Bali dengan adanya obyek wisata Pantai sanur.
3. Bagi pembaca, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan dasar pengetahuan tentang perekonomian di wilayah obyek wisata Pantai Sanur.
4. Bagi peneliti, penelitian ini dapat dijadikan awal untuk melakukan penelitian lanjutan.

BAB II LANDASAN TEORI
A. Sejarah, Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah
Sejarah
Pantai Sanur terletak di Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan Kotamadya Dati II Denpasar. Pantai ini terletak di sebelah Timur dan Selatan desa Sanur, yang merupakan tepi Samudra Indonesia sebelah Selatan Pulau Bali. Tempat itu terkenal sejak dahulu kala, terutama ketika terjadi perang Puputan Badung pada tanggal 20 September 1906 dimana Belanda mendaratkan tentaranya di sana. Dalam sejarah Bali Kuno pantai Sanur juga terkenal, dan masdih ada tugu batu tertulis yang merupakan Prasasti Raja Kasari Warmadewa yang berkeraton di Singhadwala tahun 917, dimana sekarang terdapat di Blanjong Bagian Selatan Pantai Sanur.

Di kalangan Pariwisata, pantai Sanur pertama kali diperkenalkan oleh pelukis Belgia bernama A.J.Le Mayeur bersama istrinya Ni Polok yang menetap di sana sejak tahun 1937 dan mengadakan pameran lukisan karyanya sendiri. Daya tarik pantai Sanur sebelah Utaranya melingkar seperti setengah lingkaran dan bagian Selatannya berbelok dari Timur ke Barat, dimana gelombang air lautnya tak begitu besar dan bila airnya surut terlihatlah batu karang yang membentang berwarna-warni. Pada hari mendekati bulan mati air lautnya naik dan gelombangnya agak besar. Di sebelah Tenggara terlihatlah gugusan pulau Nusa Penida di seberang laut dan di sebelah Timur kelihatan panorama pantai Selatan Pulau Bali dengan gunungnya.

Pemandangan pantai Sanur juga terlihat indah pada sore hari, karena keadaan air laut biasanya surut dan gelombangnya merupakan riak kecil. Gugusan pulau Serangan dan bukit batu karang yang menjorok ke laut di seberang laut terlihat dari Pantai Sanur sebelah Selatan. Panorama pantai Sanur sebelah Selatan lebih indah dilihat pada pagi hari. Tempat meninjau yang strategis adalah bagian Timur, di Semawang dan Mertasari. Keadaan udara di sana terasa segar dan bertiup angin laut yang nyaman. Suasana di sepanjang pantai Sanur terang dan teduh karena penuh dengan pohon besar. Pantai Sanur baik untuk menikmati matahari terbit (Sun Rise)dan berjemur di sepanjang pantai yang berpasir putih.

Lokasi

Pantai Sanur jaraknya 6 Km dari pusat kota Denpasar, dapat dicapai dengan mobil, sepeda motor atau kendaraan umum yang menghubungkan pantai Sanur dengan Kota Denoasar. Kendaraan umum sangat ramai mondar-mandir antara Sanur-Denpasar, sehingga tidak ada kesulitan masalah angkutan. Pantai Sanur sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan Mancanegara oleh wisatawan Mancanegara maupun Nusantara. Hari Minggu dan hari libur, tempat itu menjadi pilihan penduduk kota Denpasar untuk rekreasi sambil mandi di laut. Pada hari bulan Purnama malamnya banyak orang datang santai dan mandi ke sana, sambil melihat keindahan pantai di malam hari. Selain pantainya Museum Le Mayeur juga banyak menari minat wisatawan.

Fasilitas

Fasilitas yang terdapat di sana antara lain adanya Hotel bertaraf Internasional seperti Hotel Grand Bali Beach, Hotel Hyatt, Hotel Sanur Beach, Hotel Sindu Beach dan banyak lagi sepanjang Timur dan Tenggara pantai Sanur. Kios barang kesenian dan Art Shop juga banyak di sana. Akomodasi dan Restourant untuk wisatawan cukup banyak tersedia yang senantiasa siap melayani kepentingan para wisatawan.
LetakWilayah
Provinsi Bali terdiri dari beberapa pulau, yakni Pulau Bali sebagai pulau terbesar, Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Serangan (terletak di sekitar kaki Pulau Bali) dan Pulau Menjangan yang terletak di bagian barat Pulau Bali. Secara geografis, Provinsi Bali terletak pada posisi titik koordinat 8o03’40 – 8o50’48” LS (Lintang Selatan) dan 114o25’53” – 115o42’40” BT (Bujur Timur), dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
– sebelah utara dengan Laut Jawa,
– sebelah selatan dengan Samudera Indonesia,
– sebelah barat dengan Selat Bali/Provinsi Jawa Timur,
– sebelah timur dengan Selat Lombok/Pulaju Lombok

Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk

Luas wilayah Provinsi Bali secara keseluruhan mencapai 5.636,66 km2 atau 0,29% dari luas kepulauan Indonesia. Daerah pemerintahan Provinsi Bali saat ini terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yakni Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi.

Jika dilihat dari luas wilayahnya, maka Kabupaten Buleleng memiliki luas terbesar 1.365,88 km2 atau 24,25% dari luas provinsi, diikuti oleh Jembrana seluas 841,80 km2 (14,94%), Karangasem seluas 839,54 km2 (14,90%), dan Tabanan seluas 839,30 km2 (14,90%). Sisanya adalah Bangli 520,81 km2, Badung 420,09 km2, Gianyar 368,00 km2, dan Klungkung 315,00 km2, dengan total luas wilayah sekotar 31,01% dari luas provinsi.

Jumlah penduduk Bali tahun 2000 (Sensus Penduduk) sebanyak 3.146.999 jiwa atau dengan kepadatan penduduk 555 jiwa/km2 dan tingkat pertumbuhan penduduk 1,19% per tahun selama periode tahun 1990 – 2000. Untuk tahun 2005 jumlah penduduk Bali berdasarkan angka sementara sebanyak 3.431.368 jiwa (hasil Susenas 2005).
Iklim

Wilayah Bali secara umum beriklim laut tropis, yang dipengaruhi oleh angin musim. Terdapat musim kemarau dan musim hujan yang diselingi oleh musim pancaroba. Selama tahun 2005, suhu/temperatur tertinggi terjadi di Kota Denpasar dengan suhu 27,7oC dan suhu terendah terjadi di Kabupaten Tabanan dengan suhu 24oC.
Dilihat dari curah hujan di masing-masing kota dan kabupaten di Provinsi Bali, Kota Jembrana memiliki curah hujan tertinggi bila bulan November dan terendah di bulan Juli dengan rata-rata kelembaban udara antara 77,77% hingga 82,4%.
Dataran rendah di bagian selatan lebih lebar bila dibandingkan dengan dataran rendah di bagian utara. Kondisi alam seperti ini sangat berpengaruh terhadap iklim di Bali. Umumnya wilayah Bali bagian selatan turun hujan lebih banyak dari bagian utara terutama pada bulan Desember hingga Februari. Pada periode itu angin bertiup dari arah barat dan barat laut, sedangkan pada bulan Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Pada bulan Maret sampai Mei angin bertiup berubah-ubah arah, dengan rata-rata kecepatan angin berkisar antara 4 – 9 knot.
Topografi

Relief dan topografi Pualu Bali digambarkan dengan membentangnya pegunungan di tengah-tengah yang memanjang dari barat ke timur. Diantara pegunungan tersebut terdapat gunung berapi, yaitu Gunung Batur (1.717 meter) dan Gunung Agung (3.142 meter). Sedangkan gunung yang tidak berapi antara lain adalah Gunung Merbuk (1.356 meter), Gunung Patas (1.414 meter) dan Gunung Seraya (1.058 meter) serta beberapa gunung lainnya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan wilayah Bali secara geografis terbagi dalam dua bagian yang tidak sama, yakni:
– Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai,
– Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Selain itu, Provinsi Bali juga memiliki empat buah danau, yakni Danau Buyan, Danau Beratan, Danau Tamblingan, dan Danau Batur. Jenis tanah yang ada di Bali sebagian besar didominasi oleh tanah Regusol dan Latasol serta sebagian kecil saja terdapat jenis tanah Alluvial, Mediteran dan Andosol. Jenis tanah Latosol yang sangat peka terhadap erosi tesebar di bagian barat sampai daerah Kalopaksa, Petemon, Ringdikit dan Pempatan. Di samping itu juga terdapat di sekitar Gunung Penyu, Gunung Pintu, Gunung Juwet dan Gunung Seraya yang secara keseluruhan meliputi 44,9% dari luas Pulau Bali. Jenis tanah Regosol yang sangat peka terhadap erosi terdapat di bagian timur Amlapura sampai Culik. Jenis tanah ini terdapat juga di pantai Singaraja sampai Seririt, Bubunan, Kekeran di sekitar Danau Tamblingan, Buyan, dan Beratan, sekitar hutan Batukaru, serta sebagian kecil di Pantai Selatan Desa Kusamba, Sanur, Benoa, dan Kuta. Jenis tanah ini meliputi sekitar 39,93% dari luas Pulau Bali.

B. Perekonomian masyarakat bali
1. Pertumbuhan Ekonomi
Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan Tahun 2002 telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan perekonomian Daerah Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Walaupun pada tahap awal upaya pemulihan berjalan lamban, namun upaya pada tahap selanjutnya menampakkan arah yang lebih optimis bagi perkembangan perekonomian Daerah Bali. Pada saat puncak krisis perekonomian yang terjadi Tahun 2006, laju pertumbuhan ekonomi Bali mencapai minus 4,04%, ekonomi Bali mulai membaik yaitu menjadi 0,67% Tahun 2007, 3,05% Tahun 2008, 3,39% Tahun 2009, dan 3,15% Tahun 2010. Menurunnya pertumbuhan ekonomi tahun 2002 karena terjadinya tragedy bom Kuta, perang Irak, dan wabah SARS, yang berdampak terhadap turunnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali.
Struktur Ekonomi
Struktur perekonomian dalam perkembangannya lima tahun terakhir, masih didominasi oleh sector-sektor prioritas yaitu pertanian dalam arti luas, sector perdagangan, hotel dan restoran serta sector jasa-jasa. Secara umum peranan sector primer, sekunder dan tersier selama tahun 2009 dan 2010 tampak tidak banyak mengalami perubahan, yaitu Tahun 2010 sektor primer 21,47%, sector sekunder 16,00% dan sector tersier 62,53%.
Pendapatan Perkapita
Pendapatan perkapita penduduk Bali atau PDRB perkapita dalam periode Tahun 2006 – 2010 meningkat rata-rata 11,43% pertahun dari Rp. 4,446 juta Tahun 2006 menjadi Rp. 5,306 juta Tahun 2008 dan Tahun 2010 menjadi Rp. 6,855 juta.
Inflasi
Stabilitas ekonomi yang dicerminkan dengan tingkat inflasi menunjukkan bahwa laju inflasi Daerah Bali setelah krisis ekonomi berfluktuasi, yaitu pada tahun 2006 sebesar 75,11%, karena menignkatnya harga-harga yang berdampak pada turunnya daya beli masyarakat. Pada Tahun 2007 laju inflasi menurun menjadi 4,39% dan Tahun 2008 meningkat menjadi sebesar 8,98% selanjutnya pada Tahun 2009 dan 2010 meningkat kembali menjadi 11,52% dan 12,49%.
Ketenagakerjaan
Berdasarkan survai sosial ekonomi nasional (Susenas) jumlah penduduk Bali pada Tahun 2009 tercatat sebanyak 3.183.151 jiwa dan pada tahun 2010 sebanyak 3.218.563 jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut, jumlah penduduk usia kerja meningkat dari 2.568.784 jiwa menjadi 2.654.263 jiwa, dengan kesempatan kerja mencapai 97,18% dan 96,49%. Pengangguran terbuka juga meningkat dari 2,82% menjadi 3,51%. Tenaga kerja sebagian besar terserap disektor pertanian (32,18%), perdagangan (23,63%), industri (14,50%), jasa-jasa (13,48%) dan lain-lainnya (16,21%).
Pembiayaan Pembangunan
Pembiayaan pembangunan selama lima tahun terakhir (2006 – 2010) mencapai Rp. 12,809 triliun atau rata-rata mengalami peningkatan sebesar 1,09% per tahun. Ditinjau dari perbandingan investasi pemerintah dan swasta tampaknya pada tahun 2009 masih didominasi investasi pemerintah (59,35%), namun pada tahun 2010, investasi pemerintah menurun menjadi 57,15%.
Dari indikator-indikator ekonomi makro tersebut, tampak kondisi sosial ekonomi Daerah Bali sejak Tahun 2007 sudah mencapai tahap pemulihan dan sejak Tahun 2008 dalam proses tahap pemantapan sesuai dengan tahapan kebijakan penanganan krisis ekonomi yaitu tahap penyelamatan (rescue), pemulihan (recovery), dan tahap pemantapan (stabilization) untuk pembangunan kembali. Sebagai dampak dari pasca tragedi Kuta, perang Irak, dan wabah penyakit SARS yaitu memburuknya kondisi sosial ekonomi prospeknya dalam Tahun 2003 yang ditandai dengan masih banyak penduduk miskin, meningkatnya pengangguran, turunnya wisatawan mancanegara, turunnya investasi, dan lesunya perdagangan dalam negeri.
Faktor Lingkungan Internal dan Eksternal

Kebudayaan Bali Yang Dijiwai Agama Hindu.
Kebudayaan Daerah Bali adalah satu sosok kebudayaan yang hidup, tumbuh dan berkembang yang tersusun atas komponen fisik, struktur dan inti kebudayaan yaitu sistem nilai kebudayaan yang dihidupkan oleh jiwa kebudayaan yaitu Agama Hindu.Hal ini berarti Agama Hindu menjiwai kebudayaan Bali dan kebudayaan Bali mewarnai Agama Hindu.Jiwa kebudayaan ini, bukan saja memantapkan arti bobot kualitatif, namun juga menyebabkan makna spiritualitas, yang berfungsi bagi keberdayaan budaya dan sekaligus bagi ketahanan budaya Bali.Kekuatan kebudayaan Bali dapat diformulasikan dari struktur dan pengalaman sejarahnya yaitu : (1) dalam keterbukaan dan komunikasinya dengan unsur – unsur asing, kebudayaan Bali memperlihatkan diri sebagi sistem yang penuh vitalitas, selektif dan adaptif; (2) Kebudayaan Bali merupakan satu sistem yang unik dengan identitas yang jelas; (3) Kebudayaan Bali merupakan perwujudan kebudayaan yang ekspresif, memiliki landasan etika dan estetika yang kuat; (4) Kebudayaan Bali adalah satu sistem yang dinamik; (5) Kebudayaan Bali memiliki akar dan daya dukung lembaga – lembaga tradisional yang kokoh antara lain Desa Pakraman sebanyak 1.404 Desa Pakraman , dan 3.950 Banjar Adat; Subak Sawah 1.506 buah dan Subak Abian 687 buah serta sekaa – sekaa; (6) Kebudayaan Bali memiliki kekayaan variasi dan kaya akan konsepsi – konsepsi yang dipakai sebagai landasan pembangunan seperti konsepsi Tri Hita Karana dan Tri Mandala. Dengan demikian kebudayaan Daerah Bali adalah Kebudayaan yang fleksibel dan adaptif. Dalam Pergaulan Internasional, kebudayaan Bali mampu menerima pengaruh luar, karena mempunyai sistem yang penuh vitalitas, selektif, serta memiliki landasan etika dan estetika yang kuat.
Keamanan Daerah Bali yang Kondusif
Kondisi keamanan daerah Bali secara umum cukup baik, tertib dan terkendali.Gangguan keamanan yang terjadi dalam kasus bom Kuta hanya bersifat sementara.Intensitas dampak bom tersebut semakin berkurang, sejalan dengan terungkapnya kasus tersebut dengan relatif cepat, dan diadilinya para pelaku secara transparan.Kondisi ini telah menciptakan keamanan yang semakin kondusif, sehingga akan dapat menunjang pemulihan perekonomian Bali dengan lebih cepat, berkat kesiapsiagaan aparat keamanan beserta masyarakat (Desa Pakraman) untuk bersama – sama menjaga keamanan dan ketertiban di Daerah Bali.
Perkembangan Kepariwisataan Daerah Bali
Berkembangnya kepariwisataan sebagai lokomotif ekonomi daerah Bali telah memberikan dampak positif bagi perkembangan sektor – sektor lainnya, khususnya perkembangan industri kecil, perdagangan, jasa, dan lain-lain.Kepariwisataan Bali mempunyai karakteristik yang unik dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, didukung oleh adanya objek dan daya tarik wisata serta budaya.Pilar-pilar ekonomi yang dibangun lewat keunggulan industri pariwisata sebagai leading ekonomi daerah, membuka beragam peluang yang dapat mendorong aktifitas ekonomi serta pengembangan etos kerja masyarakatnya. Dimensi itu tergambar dari peluang meningkatnya pendapatan masyarakat dan meluasnya kesempatan kerja serta jaringan kerja, yang meliputi batas-batas lokal sampai tingkat nasional bahkan ketingkat internasional. Dengan dukungan industri pariwisata yang sangat besar itu telah menyebabkan sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan langsung seperti perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan, keuangan dan jasa-jasa memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Bali. Pada Tahun 2005 kontribusi kelompok sektor tersier telah mencapai 60,50% kemudian meningkat mencapai 61,90% Tahun 2006, Tahun 2007 mencapai 63,66% dan selanjutnya pada Tahun 2008 turun menjadi 63,26% dan Tahun 2009 menjadi 62,53% disebabkan menurunnya kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran pada masa krisis ekonomi, Tragedi WTC, Tragedi Kuta dan isu SARS.
Tersedianya Sarana Dan Prasarana
Tersedianya sarana dan prasarana dasar yang memadai berupa prasarana jalan dan transportasi, listrik, air bersih, dan telepon yang kondisinya cukup memadai merupakan salah satu bentuk “insentif”, untuk dapat membangkitkan kegiatan ekonomi masyarakat. Pembangunan di bidang transportasi, khususnya prasarana jalan, dengan total panjang 6.664,62 Km terdiri dari jalan nasional 495,93 Km, panjang jalan provinsi sepanjang 848,89 Km dan jalan kabupaten sepanjang 5.391,44 Km. Sampai Tahun 2007 telah mampu meningkatkan jalan sepanjang 208,67 Km dan pembangunan jalan baru Belok-Sidan dan Tohpati-Kusamba.Perkembangan pembangunan perhubungan yang meliputi perhubungan darat, udara, pos dan telekomunikasi untuk melancarkan distribusi barang dan jasa ke seluruh wilayah.Terdapat kendaraan angkutan umum sebanyak 61.663 buah terdiri dari Angkutan Kota Antar Provinsi 535 buah, Antar Kota Dalam Provinsi 1.939 buah, Angkutan Pedesaan 1.235 buah, Angkutan Taxi 1.899 buah, Angkutan Pariwisata 882 buah, Angkutan Sewa 3.653 buah dan Angkutan Barang 51.520 buah.Fasilitas perhubungan terdapat Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk, Pelabuhan Benoa, Pelabuhan Padang Bai, Pelabuhan Celukan Bawang dan Bandar Udara Ngurah Rai yang mempunyai kapasitas penumpang dan barang yang cukup memadai.Satuan sambungan telepon yang terpasang sampai Tahun 2008 sebanyak 217.655. SST yang rata-rata meningkat 1,89% pertahun, untuk kebutuhan air bersih baik diperkotaan maupun di pedesaan, cakupan pelayanannya baru mencapai 84,37% dan 58,91%.Pelayanan kelistrikan baik kepada masyarakat maupun dunia usaha cukup memadai dengan listrik masuk desa mencapai 100%.
Dukungan dan partisipasi masyarakat yang tinggi dalam pembangunan
Dalam periode Tahun 2006 – 2010 investasi pembangunan yang bersumber dari swasta dan swadaya masyarakat mencapai Rp. 6.617 triliun (51,66%) dari total pembiayaan pembangunan. Pada tahun 2006 investasi swasta yang terdiri dari dunia usaha dan swadaya masyarakat mencapai Rp. 1,292 triliun (67,05%). Dan Tahun 2010 mencapai Rp. 1,186 triliun (42,85%). Adanya dukungan partisipasi tersebut merupakan potensi di dalam mendukung pembangunan selanjutnya di segala bidang/sektor.
Kuantitas SDM
Keadaan penduduk Bali berdasarkan hasil sensus penduduk Tahun 2008, dari jumlah penduduk 3.146.999 jiwa, 74,35% atau 2.328.800 jiwa adalah penduduk usia kerja. Persentase angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja mencapai 75,99% dan bekerja sebesar 73,59%. Jumlah penduduk tahun 2010 sebesar 3.218.563 jiwa, dengan penduduk usia kerja sebanyak 2.654.263 jiwa. Angkatan kerja yang terserap sebesar 96,49% dengan tingkat pengangguran atau pencari kerja 3,51%. Penyerapan tenaga kerja sebagian besar ada disektor pertanian sebesar 32,18%, perdagangan hotel dan restaurant 23,63%, industri 14,50%, jasa 13,48% dan sisanya sebanyak 16,21% berada di luar sektor tersebut.
Industri Kecil dan Menengah
Sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang cukup baik adalah terciptanya struktur perekonomian daerah kearah yang lebih berimbang. Hal ini dapat dilihat dari peranan sektor non pertanian dalam pembentukan PDRB yaitu Tahun 2010 sebesar 78,53%. Beberapa indikator dari pesatnya perkembangan industri adalah perkembangan sentra industri yaitu sampai dengan Tahun 2010 sebanyak 840 sentra dengan jumlah unit usaha 52.389 buah dan tenaga kerja yang terserap sebanyak 165.651 orang. Jumlah investasi disektor pada tahun 2010 mencapai Rp. 295.369,584 juta dengan nilai produksi sebesar Rp. 3.524.650 juta. Nilai ekspor Daerah peranan atau kontribusi nilai ekspor hasil-hasil industri mencapai 81%. Hal ini berarti peranan industri dalam ekspor Daerah Bali sangat besar pengaruhnya.
Ketimpangan pembangunan
Pembangunan perekonomian yang selama ini lebih memusatkan pada tingginya tingkat pertumbuhan telah mengakibatkan terjadinya ketimpangan perkembangan pembangunan antar kabupaten/kota, antar sektor, dan antar pedesaan perkotaan. Peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDRB mengalami penurunan dari 23,31% tahun 2006 menjadi 22,10% Tahun 2007 dan 20,61% Tahun 2008, yang selanjutnya Tahun 2009 – 2010 mengalami peningkatan masing-masing menjadi 20,68% dan 20,77%. Posisi tawar produk pertanian sangat lemah dan diikuti pendapatan petani rendah, dimana hasil yang diperoleh (output) dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan (input) tidak memberikan nilai ekonomis yang memadai. Disamping mengakibatkan terjadinya ketimpangan pembangunan antar sektor, pembangunan perekonomian Bali juga telah mengakibatkan terjadinya ketimpangan pembangunan antar wilayah, antara lain ditunjukkan oleh perbedaan kemampuan PAD yang sangat tajam antara Kabupaten Badung, Gianyar dan Kota Denpasar dibandingkan dengan kabupaten lainnya, yang juga berakibat pada ketimpangan pendapatan perkapita pada Kabupaten Badung, Gianyar dan Kota Denpasar dengan pendapatan perkapita pada kabupaten lainnya. PDRB perkapita Tahun 2010 per Kabupaten/Kota dan rata-rata Bali adalah : Jembrana Rp. 5,780 juta, Tabanan Rp. 4,829 juta, Badung Rp. 13,109 juta, Gianyar Rp. 6,530 juta, Klungkung Rp. 6,424 juta, Bangli Rp. 4,804 juta, Karangasem Rp. 3,957 juta, Buleleng Rp. 4,783 juta, Denpasar Rp. 7,564 juta, dan rata-rata Bali Rp. 6,855 juta.
Kualitas SDM yang belum merata dan memadai
Kualitas SDM dapat dilihat dari Indek Pembangunan Manusia (IPM) yaitu pada Tahun 2007 sebesar 62,60 dan pada Tahun 2008 sebesar 71,11. Berdasarkan IPM Tahun 2010 diketahui bahwa umur harapan hidup penduduk Bali mencapai rata-rata 71,54 tahun, angka melek huruf mencapai 84,09%, dan rata-rata lama sekolah 7,36 tahun serta pendapatan atau pengeluaran sebesar Rp. 298.450 perbulan. Skor IPM per Kab/Kota Tahun 2010 cukup bervariasi yaitu IPM tertinggi ada di Kota Denpasar (76,85) dan terendah di Kabupaten Karangasem (62,72). Disamping itu juga ditunjukan oleh pencapaian angka partisipasi murni (APM) SD/MI Tahun 2010 baru mencapai 97,00%, sedangkan di tingkat SLTP/MTAS baru mencapai 64,21% dan di tingkat SLTA/MA baru mencapai 44,31%. Ditinjau dari derajat kesehatan masyarakat, angka kematian ibu melahirkan mencapai 88,53/100.000 kelahiran hidup. Demikian pula angka kematian bayi mencapai 24,41/1000 orang kelahiran hidup.
Masih banyak jumlah penduduk miskin
Perbedaan potensi antar kabupaten yang disertai dengan terjadinya krisis perekonomian yang berkepanjangan, mengakibatkan semakin banyaknya jumlah penduduk miskin di daerah Bali. Secara absolut pada Tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Bali sebanyak 227.000 orang (7,81%), Tahun 2007 sebanyak 257.800 orang (8,53%) dan Tahun 2010 sebanyak 221.799 orang (6,89%) yang sebagian besar berada di pedesaan terutama di sektor pertanian dalam arti luas (56,66%), industri (18,80%), jasa-jasa (16,53%) dan lain-lainnya (8,36%). Jika ditinjau dari status Keluarga Sejahtera (KS), status Keluarga Pra KS dan KS I alasan ekonomi Tahun 2007 mencapai 82.972 KK, kemudian meningkat Tahun 2008 menjadi 88.915 KK, Tahun 2009 sebanyak 93.912 KK, dan Tahun 2010 menjadi 98.189 KK.
Adanya kerusakan lingkungan
Sebagai ekosistem pulau kecil, Bali mengalami keterbatasan lahan dan sumber daya air, akan berpengaruh pada keberadaan dan kelestarian sumber daya alam secara keseluruhan. Dikaitkan dengan keberadaan sumber daya alam daerah Bali yang sangat terbatas, maka pengelolaan secara parsial akan mengakibatkan menurunnya fungsi lingkungan, dan akan merusak kelestarian lingkungan secara makro seperti adanya pemanasan global/kekeringan, abrasi pantai, proses pendangkalan sungai, pencemaran lingkungan dan penurunan air permukaan. Hal ini akan dapat menurunkan daya tarik panorama daerah Bali, yang selama ini menjadi salah satu andalan untuk mendukung pembangunan secara berkelanjutan.
Masih lemahnya koordinasi penataan ruang
Kewenangan dalam penataan ruang masih dilaksanakan secara parsial oleh masing-masing kabupaten/kota. Dikaitkan dengan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, yang memberikan implikasi kepada kurangnya penerapan Tri Hita Karana, Tri Mandala dan Tri Angga, serta meningkatnya kecenderungan kabupaten/kota untuk menggali sumber-sumber PAD. Hal ini berdampak negative terhadap keserasian dan kelestarian lingkungan daerah Bali.
Belum mantapnya penegakan hukum
Lemahnya kesadaran dan penegakan hukum, kemampuan aparat di dalam menegakkan hukum dan kepastian hukum, sehingga hukum belum mampu menjadi panglima dalam kehidupan masyarakat. Sebagai akibat hal tersebut di atas muncul situasi tidak tegaknya supremasi hukum dan terjadinya pelanggaran HAM, yang menyebabkan meningkatnya tindak kriminal, narkoba dan perjudian.
Terjadinya urbanisasi
Urbanisasi yang deras, sebagai akibat terkonsentrasinya pembangunan pada daerah-daerah perkotaan, terutama di Kota Denpasar, Badung dan Gianyar akan menimbulkan berbagai masalah seperti berkurangnya tingkat pelayanan prasarana pemukiman perkotaan, timbulnya kemacetan lalu lintas, menurunnya kualitas lingkungan pemukiman, gangguan kamtibmas, dan penyebaran penduduk yang tidak merata sehingga berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya manusia.
Lingkungan Eksternal (Peluang)
Pelaksanaan Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah sebagai mana diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, memberikan keleluasaan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat menurut prakarsa sendiri sesuai aspirasi masyarakat dan dengan kondisi obyektif di daerah/lapangan. Otonomi daerah akan dapat meningkatkan keberpihakan pembangunan kepada masyarakat, sehingga pelayanan kepada masyarakat serta partisipatf masyarakat dalam pembangunan dapat lebih meningkat.
Kepercayaan dunia internasional
Kepercayaan internasional terhadap keamanan dan kenyamanan daerah Bali merupakan peluang yang sangat baik bagi pembangunan pertumbuhan perekonomian daerah Bali.Berbagai issue yang berskala regional. Nasional dan internasional telah memberikan dampak negative terhadap perekonomian daerah Bali. Dengan semakin kondusifnya keadaan keamanan secara nasional dan lokal khususnya dengan telah terungkapnya pelaku tragedi Kuta yang menghantui keamanan daerah Bali, telah dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah Bali, yang pada gilirannya akan menjadi salah satu faktor dalam pemulihan perekonomian.
Bali sebagai daerah tujuan wisata utama
Daerah Bali yang menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia dan dunia, merupakan peluang yang sangat besar dalam upaya meningkatkan laju pembangunan.Potensi budaya sebagai daya tarik kepariwisataan yang dimiliki daerah Bali akan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan perkembangan investasi, yang pada gilirannya akan dapat mendorong peningkatan perekonomian daerah.
Globlalisasi
Globalisasi ekonomi dan perdagangan yang didukung oleh perkembangan teknologi dan informasi menghadirkan berbagai peluang secara ekonomi, sosial dan kebudayaan.Tatanan ekonomi yang merupakan suatu sistem ekonomi pasar yang bersifat global dan kompetitif, saat ini akan terbuka peluang seluas-luasnya bagi produk-produk bali yang berorientasi ekspor untuk memasuki pasar internasional, pengembangan dan pemanfaatan informasi dan teknologi tepat guna. Globalisasi informasi dan ekonomi (pasar bebas) akan dapat meningkatkan pola pikir dan kreativitas masyarakat, serta akan membuka peluang yang seluas-luasnya bagi pemasaran produk daerah Bali yang berorientasi ekspor ke mancanegara.
Kerjasama antar daerah dan antar negara
Citra yang baik memberikan peluang bagi Daerah Bali untuk melakukan kerjasama baik regional maupun internasional, sehingga dapat memanfaatkan potensi pihak luar.Kerjasama antar daerah dan antar negara yang sangat dibutuhkan dalam pemantapan otonomi daerah.
Pemanfaatan teknologi
Perkembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknolgi (IPTEK) termasuk telekomunikasi, media dan informatika (Telematika) pada era globalisasi membuka peluang dan membawa dampak pada perubahan pola pikir dan cara pandang masyarakat dalam melakukan berbagi kegiatan yang berorientasi pada aspek kemudahan dan kecepatan dalam pertukaran akses informasi dan pelayanan.Teknolgi informasi merupakan faktor pendukung bagi pembangunan daerah Bali yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan aspek hukun yang mampu meningkatkan daya saing dalam menghadapi tantangan globalisasi.Disamping itu, ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai peranan sangat penting dalam pengembangan kualitas SDM yang mempengaruhi kemajuan dan pertunbuhan ekonomi terutama menggerakkan industri yang berbasis IPTEK dan pengembangan pasca panen.
Potensi sumber pembiayaan
Banyaknya BUMN yang ada di daerah Bali akan menjadi peluang dengan kontribusinya untuk meningkatkan PAD sehingga dapat membantu meningkatkan pembangunan daerah Bali dan memantapkan otonomi daerah.Pengembangan pemungutan PAD melalui Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagian Laba Usaha Daerah dan lain-lain pendapatan cukup potensial melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sebagai sumber pembiayaan pembangunan mengingat potensi sumber daya yang dimiliki masih cukup potensial untuk dikembangkan.
Lingkungan Eksternal (Tantangan)
Produk-produk Hukum Nasional Belum Konsisten dan Memadai
Adanya aturan-aturan dari pemerintah pusat yang tidak konsisten sehingga menghambat jalannya penyelenggaraan pemerintah. Seringkali pula tidak adanya kesatuan bahasa antara instansi di tingkat pusat dalam mengatur substansi yang sama.Sementara itu masih banyak kewenangan-kewenangan yang telah diserahkan kepada provinsi, kabupaten/kota namun masih belum ada peraturan yang jelas. Disamping itu, substansi dari undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan 25 Tahun 1999 belum sesuai dengan situasi dan kondisi daerah Bali.
Daerah Bali sebagai satu kesatuan tatanan sosial dan budaya dengan diberlakukan UU Nomor 22 Tahun 1999 menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda dan menunjukkan gejala kearah yang sangat desentralistik sehingga antar kabupaten/kota, dan daerah provinsi seolah-olah terkotak-kotak dan tidak ada hubungan yang hirarkis. Disamping daerah Bali yang luasnya relatif kecil tidak memiliki sumber daya alam, sedangkan UU Nomor 25 Tahun 1999 substansinya mengarah pada keberadaan sumber daya alam yang dapat di kelola oleh setiap kabupaten/kota.
Produk-produk hukum pemerintah pusat yang semestinya menjadi pedoman dalam pembangunan daerah masih belum sepenuhnya dapat diwujudkan sebagaimana diharapkan.Demikian pula perangkat peraturan yang pendukung pelaksanaan otonomi lainnya, belum lengkap dan belum konsisten.Keadaan ini memberikan dampak yang kurang kondusif terhadap pelaksanaan pembangunan daerah.
Tingginya tingkat migrasi
Migrasi yang tidak terkendali akan dapat memberikan dampak yang kurang kondusif bagi upaya-upaya pelestarian lingkungan dan pelestarian kebudayaan dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan.Berdasarkan hasil sensus penduduk Tahun 2005 tercatat sebanyak 184.182 penduduk Bali yang migran mencakup migran antar wilayah kabupaten(52,64%) dan migran yang berasal dari luar bali (47,63%).Daerah perkotaan merupakan daerah yang menjadi pusat tujuan migran yang sebagian besar terdapat di Denpasar 17,27%, Badung 9,69% Gianyar 4,71%, dan Tabanan 5,22%.Penduduk migran di Kota Denpasar sebagian besar berasal dari luar Bali mencapai 61,82% dan sisanya 38,18% adalah migran di dalam wilayah Provinsi Bali.
Stabilitas Nasional Belum Kondusif
Masih tidak menentunya keadaan politik dan keamanan secara nasional mempengaruhi kunjungan wisatawan mancanegara di Daerah Bali.Berlakunya otonomi daerah yang luas di kabupaten/kota berimplikasi pada egoisme antar daerah sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat.Hal ini dipicu oleh kuatnya keinginan masing-masing kabupaten/kota untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya untuk membiayai pembangunannya.Disamping itu adanya konflik horizontal dan vertikal diluar daerah bali termasuk eforia reformasi serta semakin meluasnya jaringan terorisme internasional sehingga menimbulkan dampak yang tidak kondusif dalam perkembangan perekonomian daerah Bali.
Pengaruh Budaya Luar
Globalisasi mengakibatkan terjadinya pergeseran-pergeseran nilai-nilai orientasi dalam masyarakat semakin terbuka dan meluas, terutama trnsformasi budaya yang bersifat negatif seperti komersialisasi, individualisme, materialisme dan konsumerisme yang membawa kedangkalan dan kerapuhan dasar-dasar moral.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian : sekitar Pantai sanur
Tanggal penelitian : 23 Maret 2010
Waktu penelitian : 16.00- 18.00 WITA
B. Metode yang digunakan
a. Metode observasi
Pengumpulan data dengan jalan melakukan pengamatan penelitian secara langsung pada obyek – obyek wisata dan langsung mencatat hasil pengamatan secara langsung.
b. Metode Interview
Pengumpulan data dengan jalan mengadakan tanya jawab secra langsung kepada masyarakat atau pemandu wisata atau mengadakan informasi dari narasumber
c. Metode dokumentasi
d. Pengumpulan data dengan jalan menga,bil informasi dari dokumen,foto dan brosur brosur

BAB IV DATA KUNJUNGAN

1. Letak Geografis

a. Keadaan alam : subur, pantai
b. Potensi wisata : perdagangan, wisata
c. Posisi : Pantai Sanur jaraknya 6 Km dari pusat kota Denpasar, dapat dicapai dengan mobil, sepeda motor atau kendaraan umum yang menghubungkan pantai Sanur dengan Kota Denoasar. Kendaraan umum sangat ramai mondar-mandir antara Sanur-Denpasar, sehingga tidak ada kesulitan masalah angkutan. Pantai Sanur sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan Mancanegara oleh wisatawan Mancanegara maupun Nusantara
d. Keunggulan :
1. Pasirnya yang putih
2. Mataharinya yang terik
3. Airnya surut di sore hari
2. Mata pencarian penduduk

a. Sebelum obyek wisata berkembangan: nelayan, petani
b. Setelah obyek wisata berkembang : penyediaan jasa, jual makanan, jual sovernir,
3. Kegiatan ekonomi
a. Perdagangan
1. Jenis usaha : centera mata, makanan
2. Jenis usaha unggulan : rumahmakan, penginapan
b. Jasa transportasi, penyewaan kapal
c. Industry
1. Home industri
2. Kegiatan pembutan
3. Pemasaran melalui media cetak, elektronik dan dari wisatawan yang pernah datang ke pantai sanur
d. Kesempatan kerja : besar
e. Pendapatan penduduk meningkat
f. Kemakmuran penduduk baik
4. Dampak negatif : rusaknya ekosistem

BAB V ANALISA DATA

Pantai Sanur adalah salah satu pantai yang menarik di Pulau Bali. Pantai ini memiliki panjang 3 kilometer dengan garis pantai menghadap ke timur. Pantai Sanur terkenal dengan pantainya yang berwarna putih bersih dan lembut. Disamping itu, pantai Sanur merupakan pantai yang berbatu karang sehingga memiliki kelebihan tersendiri. Dibandingkan dengan Kuta, kawasan Sanur menyediakan tempat menginap yang relatif lebih mahal namun tenang. Dibandingkan dengan Nusa Dua, Sanur menawarkan harga yang sedikit lebih murah. Kawasan pantai Sanur merupakan alternatif bagi para turis lokal maupun mancanegara yang ingin menghindari nuansa hiruk pikuk seperti Kuta, Legian atau Seminyak. Di area ini ketenangan dan kenyamanan adalah prioritas utama. Bagi yang suka menikmati matahari terbit (sunrise) maka Sanur adalah tempat yang sangat tepat. Seperti halnya terutama di area Nusa Dua, di Sanur juga terdapat hotel-hotel kelas dunia. Disini berdiri Hyatt Sanur Bali, Sanur Beach Hotel, Mercure Resort Sanur, Grand Bali Beach yang memiliki lapangan golf di areal hotelnya. Selain itu sebagian besar semua hotel berbintang yang ada di Sanur bisa dipastikan memiliki pantai sendiri (private beach) di bagian belakang hotel. Jadi kehidupan kelas dunia dengan tinggal di hotel-hotel bertarif mahal masih bisa Anda dapatkan di kawasan Sanur. Ditambah pesona pantai sanur yaitu Pasirnya yang putih,Airnya surut di sore hari, Mataharinya yang terik.
Dari potensi yang dimiliki didukung dengan fisit Indonesia 2009 yang menarik banyak pengunjung dari berbagai belahan dunia maupun dari Indonesia sendiri. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Adapun daerah yang menyumbang nilai tambah sektor . Sektor Jasa-jasa seperti penyewaan alat alat olah raga pantai perahu, kpal dan lain lain.
Dampak negatif dari perkembangan pantai saur
• Banyaknya sampah plastik yang berserakan dari ulah wisatawan, juga belum sadarnya produsen-produsen untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan menggantinya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan.
• Berkurangnya kesakralan upacara melasti adat Bali (terutama di sepanjang pantai kuta), karena banyak wisatawan yang menggunakan bikini menyaksikan upacara yang akhirnya menjadikan masyarakat bali yang begitu kurang khusuk dalam melaksanakan upacara.
• Meningkatnya pelanggar norma agama dan kesusilaan, seperti aksi narkoba dan free sex
yang sering dilakukan di pusat-pusat hiburan malam, hotel-hotel bahkan di sepanjang jalan legian.
• Rusaknya ekosistem dan keseimbangan alam.
BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Obyek-obyek wista merupakan asset Negara yang menambah pemasukan Negara.
2. Banyaknya peluang usaha dan kerja sehingga obyek wisata mempengaruhi pertumbuhan perekonomian Negara.
3. Masih kurang terawatnya kebersihan yang membuat kerusakan terhadap alam.
4. Potensi alam di Indonesia sangatlah mendukung untuk dijadikan oyek wisata karena disetiap pantai memiliki ciri khas masing – masing
5. Bali adalah tempat wisata yang secara alami telah tersaji banyak keindahan alam dengan keaslian budaya, dan adat istiadat.
6. Meningakatnya struktur perekonomian masyarakat di sekitar Pantai sanur dipengaruhi berbagai sector-sektor prioritas kegiatan pariwisata yaitu pertanian dalam arti luas, sector perdagangan, hotel, pertokoan dan restoran serta sector jasa-jasa.

B. Saran-saran
1. Bagi pengunjung yang datang ke tempatwisata agar lebih memperhatikan kebersihan dan menjaga keseimbangan alam.
2. Bagi pengelola obyek wisata perawatan sarana dan prasarana lebih ditingkatkan
3. Bagi pemerintah lebih memperhatikan obyek-obyek wisata agar dapat lebih menarik untuk di kunjungi tanpa merubah keaslian obyek wisata tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: